Susu Kambing vs Susu Sapi,
Mana yang lebih bagus? Susu apa yang biasa Anda konsumsi? Sebenarnya,
keduanya sama-sama menjadi salah satu sumber nutrisi protein hewani
terbaik yang dibutuhkan tubuh.
Pada umumnya konsumsi susu ternak dianjurkan karena potensinya sebagai
sumber protein dan kalsium yang sangat penting bagi kesehatan manusia.
Bahkan sebagai sumber kalsium – dengan pola makan masyarakat yang
umumnya sangat kurang konsumsi sayur segarnya – nyaris susu tak bisa
digantikan dengan bahan makanan lainnya. Oleh karena itu, pada umumnya
ahli pangan dan gizi sangat menganjurkan untuk minum susu setiap hari.
Namun, seorang ahli pangan yang sangat memperhatikan pengaruh pola makan
terhadap kesehatan dan proses timbul dan sembuhnya berbagai macam
penyakit, Norman W. Walker telah membuktikan bahwa susu – kecuali susu
kambing segar – adalah bahan makanan yang paling banyak menimbulkan
lendir di dalam tubuh manusia[6]. Beliau juga mengamati bahwa susu yang
paling cocok untuk dikonsumsi manusia (selain bayi yang belum lepas dari
air susu ibu) adalah susu kambing segar. Dinyatakannya pula bahwa
pemanasan di atas suhu 48°C justru merusak nilai fisiologis susu
kambing dan dapat menyebabkan gangguan kesehatan karena merangsang
timbulnya lendir yang berlebihan – suatu hal yang sangat kontroversial
bagi ahli gizi dan teknologi pengolahan pangan pada umumnya.
Di antara gangguan kesehatan yang ditimbulkan dari mengkonsumsi susu
sapi adalah kegemukan, asma, infeksi paru-paru, pilek alergi (misal
alergi serbuk sari) dan tuberkulosis6, meskipun pada umumnya ahli gizi
dan dokter berpendapat bahwa susu sapi dapat menjadi bahan makanan
sumber berbagai macam antibodi untuk melawan penyakit.
Allah SWT. telah berfirman bahwa susu adalah minuman yang disediakan-Nya
bagi manusia (QS. 16: 66, 23: 21). Allah juga menyebutkan bahwa minuman
susu itu mudah ditelan oleh manusia. Dalam istilah ilmu gizi tentunya
mudah ditelan ini maksudnya adalah mempunyai arti fisiologis yang baik.
Tidak mungkin Allah menjerumuskan hamba-hamba-Nya dengan menunjukkan
sumber minuman yang justru menimbulkan berbagai macam penyakit.
Maka dalam kontroversi manfaat ataukah kerugian yang akan kita rasakan sesudah mengkonsumsi susu sapi perlu dikaji secara menyeluruh, bukan hanya untuk satu jenis gangguan kesehatan semata. Kalau dikatakan susu sapi bisa menjadi sumber antibodi untuk melawan penyakit tertentu, sedangkan di sisi lain status kesehatan orang yang bersangkutan tidak dimonitor secara menyeluruh (misal alergi tetap ada dan berat badan semakin bertambah tanpa bisa dikontrol), maka boleh jadi memang ada manfaat dari susu sapi bagi kesehatan manusia di samping banyak mudhorot yang ditimbulkannya.
Ini mirip dengan yang telah berlaku bagi minuman keras (khamr), tapi dalam khamr ini Allah jelas-jelas telah membongkar rahasianya dengan berfirman bahwa di dalam khamr memang bisa ditemui ada manfaatnya (paradoks Perancis dengan khamr anggur merahnya), namun kemudhorotannya jauh lebih besar. Dengan demikian maka besarnya konsumsi susu sapi oleh kaum muslimin selama ini bisa jadi hanya disebabkan oleh keterbatasan ilmu manusia yang keliru dalam menafsirkan ayat tentang susu dalam Al Qur’an sebagai susu ternak apa saja termasuk sapi, sedangkan seharusnya adalah susu kambing. Bukti-bukti ilmiah tentang manfaat susu kambing terhadap kesehatan sebetulnya telah diperoleh manusia hanya saja secara umum publikasinya masih kalah dibandingkan dengan susu sapi.
Kesiapan Teknologi Pendukung Produksi Susu Kambing
Sesudah mengetahui sangat banyaknya manfaat susu kambing dibandingkan dengan susu sapi, maka tentu timbul pertanyaan: Mengapa di Indonesia sulit dijumpai produk susu kambing di toko-toko atau di supermarket- supermarket? Bukankah kambing bisa hidup di iklim negara kita? Apakah memang budidaya kambing itu sulit alias tidak prospektif dari sudut pandang ekonomi? Telah diteliti bahwa budidaya kambing sangat potensial dan realistis untuk dikembangkan di negara-negara yang sedang berkembang dengan iklim tropis.
Dari Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Balai Penelitian Ternak di Bogor dapat disimpulkan bahwa kondisi lingkungan di Indonesia sangat cocok bagi budidaya kambing dari jenis yang bisa dijadikan sekaligus pemasok susu dan daging, yakni peranakan antara kambing kacang dan kambing Etawah yang berasal dari India dan dikenal dengan kambing PE. Dalam laporan penelitian itu disarankan agar ternak kambing yang jantan dibesarkan untuk dimanfaatkan dagingnya, sedangkan ternak yang betina dibesarkan untuk diambil susunya. Diperhitungkan bahwa satu ekor kambing PE dapat mencukupi kebutuhan protein hewani asal susu untuk sebuah keluarga dengan 5 orang anggota keluarga. Budidaya kambing PE ini sudah menunjukkan keberhasilan di beberapa daerah sehingga sangat potensial untuk dijadikan proyek nasional bagi negara kita yang mayoritas penduduknya masih sangat rendah status gizi dan kemampuan ekonominya.
Jadi, apa lagi yang perlu kita tunggu? Di satu sisi kita dapat menaikkan taraf kesehatan masyarakat dengan menyediakan sumber protein hewani yang halal dan thoyyib, dan menaikkan taraf ekonomi rakyat di pedesaan-pedesaan melalui usaha budidaya kambing ini. Di sisi lain kita dapat melestarikan salah satu sunnah Rasulullah yang telah banyak dilupakan orang di negara yang mayoritas penduduknya muslim. Kita bisa mengambil pelajaran dari negara tetangga kita Malaysia yang telah sukses lebih dahulu dalam mempromosikan pentingnya peran susu kambing ini secara profesional.
Oleh karena itu sudah saatnya para ahli teknologi pengolahan pangan, ahli gizi, ekonom, ahli budidaya ternak dan jajaran pimpinan di pemerintahan memikirkan lebih serius lagi dan saling bekerja sama dalam memasyarakatkan peran penting susu kambing ini dan meningkatkan produksinya. Dalam hal ini ada dua hal penting yang perlu mendapatkan prioritas: peningkatan produksi susu dengan tetap memperhatikan kesehatan ternak dan lingkungan, dan peningkatan keamanan/higiene susu, terutama karena manfaat kesehatan susu kambing sangat berkurang akibat pemanasan, sedangkan pada umumnya untuk keamanan dan pengawetan produk susu perlu dipanaskan. (dari berbagai sumber)
Sumber : Swara muslim
Tidak ada komentar:
Posting Komentar